Rabu, 18 Februari 2015

Beda Spesies

"Animals don't hate and we are supposed to be better than animals." - Elvis Presley


Quote di atas juga pernah aku denger dari bapak kucing dunia, Jackson Galaxy. Dia bilang di acaranya, My Cats from Hell, bahwa hewan selalu memaafkan. Mereka bertarung hanya untuk memangsa dan memperluas wilayah. Itulah kenapa aku selalu bilang (kapan?) bahwa aku lebih suka hewan daripada manusia.

Kali ini aku bakal cerita tentang kucing-kucingku dari awal sampe kucingku yang paling masa kini.


Kucingku yang pertama itu aku punya pas masih tinggal di NTT. Aku lupa namanya, jadi sebut saja dia Lego. Lego ini kucing yang paling gendut yang aku punya. Waktu aku masih kecil, ada sinetron(?) dari entah darimana judulnya Carita De Angel. Disitu, tokoh Dulce Maria punya anjing namanya Ciripa yang biasanya bisa ngomong-ngomong sendiri. Sejak saat itu, aku kepengen punya kucing dan ketemu dengan Lego. Lego ini kucing betina. Kalo di dunia kucing, dia gak cukup cantik. Terbukti dengan dia hanya nikah satu kali dengan anak yang cukup banyak dan kata asisten rumah tanggaku waktu itu, Kak Lemens, si Lego ini lahirnya prematur. Aku yang saat itu TK-nya ngulang, percaya-percaya aja.

Aku sama si Lego ini hubungannya sangat baik, sampe akhirnya sinetron Carita De Angel merusak masa kecilku. Sebagai anak kecil yang awam sama dampak buruk media massa, aku mudah terpengaruh apapun yang keluar dari sinetron-sinetron. Habis nonton Carita De Angel, aku mulai kepikiran buat ngajarin si Lego ngomong. Kalo pas siang-siang mamak dan bapak belom pulang, aku mulai ngelesin si Lego ngomong. Pertama, aku masih inget banget aku nyuruh dia nyusul aku di pintu depan. Dan yang namanya hewan, diajarin gak bisa langsung pinter kan? Karena waktu itu aku lebih kurang pinter daripada Lego, aku ngehukum dia kalo gak mau nurut. Iya. Seperti pengalamanku di sekolah, yang nakal di suruh berdiri. Lego pun aku suruh berdiri. Gak lama dari peristiwa ngajarin ngomong Lego, dia pergi kabur ke hutan belakang rumah. Waktu itu Kefamenanu belom serame sekarang, belakang rumahku masih hutan belantara dimana kadang-kadang kamu bisa bertatap muka dengan ular pas lagi mandi.

Kucingku kedua juga aku punya pas masih di NTT. Namanya juga aku lupa, tapi kita sebut saja Putri. Putri ini kucing yang paling kalem yang aku punya. Dia suka bergaul sama semua hewan. Sampe ayam punya Bapak dia juga kenal, bahkan sesekali habis pulang sekolah aku liat dia lagi duduk-duduk bareng sama ayam itu (gak lama kemudian, ayamnya disembelih). Putri ini saking kalemnya, kita gak sadar kalo dia lagi ada sama kita. Sampe hari itu tiba. Aku masih inget persis kejadian ini. Memilukan. Waktu itu aku masih SD ato TK gitu (TK-ku cukup lama, karena mau lulus tapi gak cukup umur buat masuk SD akhirnya ngulang), hari minggu. Pas itu aku sama keluarga mau jalan-jalan ke Oeluan. Oeluan ini tempat wisata kolam renang dan tempat camping gitu. Pas kesana, aku bahagia dan tidak punya firasat apa-apa. Aku masuk ke dalam mobil, bapak mulai manasin mobilnya. Habis itu.... bapak mundurin mobilnya dan terdengar suara "NYAOOONGGG!!!" erangan kucing. Terus Bapak mukanya panik, aku panik, mamak panik, semua panik. Ternyata si Putri kelindes mobil dan tewas di tempat. Disini aku yang gantian meraung sampe aku inget aku bilang "LINDES SAYA PAKE MOBIL JUGA PAK!! HUAAAA!!!". Kalo aku bilangnya sekarang, mungkin aku dilindes beneran. Aku nangis disepanjang jalan ke Oeluan. Aku masih inget aku mikir "Kemaren aku masih main sama Putri, masih elus-elus dia, sekarang dia udah gak ada. Ya Allah, Putri kucing yang baik dan gak nyakar. Masukin dia ke Surga ya Allah jadi aku bisa ketemu dia," sambil ngusep-ngusep air mata. Pas nyampe Oeluan aku sudah lupa. Berenang dengan serunya sampe hampir tenggelam.

Kucing ketiga yang aku punya itu masih kecil umur 4 bulanan. Namanya Temi karena warnanya item. Dia kucing yang paling aktif dan kucing yang cita-citanya jadi tentara. Kenapa tentara? Seperti yang kita tau, latian tentara itu kan di alam liar dan berlumpur, setiap Temi pulang rumah, badannya selalu berlumuran lumpur yang membuat mamak, yang cat hater, merasa risih. Kasian kak Lemens tiap hari mandiin Temi. Temi kucingku tapi gak mau aku mandiin. Karena, setiap dia pulang aku selalu sudah habis mandi. Karena Temi ini sejenis kucing hutan, jadi jiwanya liar. Dia gak bertahan lama di rumahku. Oh iya! Temi punya mamak. Habis Temi dilahirkan, dia gak dirawat. Temi ditinggal mamaknya balik ke hutan. Kalo di dunia manusia, Temi ini kayak anak hasil hubungan haram, yang habis dilahirkan terus ditaruh dibawah pohon ato di depan pintu panti asuhan.

Kucing keempat yang aku punya adalah kucing yang paling cute yang pernah aku punya, kembar dua namanya Pusi dan Puso. Mereka berdua lucu banget seumuran Temi pas pertama kali dateng. Waktu itu aku udah lama gak perlihara kucing, jadinya sekali melihara aku gak biarin mereka keluar. Padahal mereka kucing yang punya naluri bebas dan gak bisa dikurung. Aku kasih makan mereka setiap hari. Nenek yang masakin. Seperti manusia, mereka makan jangan tewel kalo misalnya pas lagi gak masak ikan atau daging. Gak lama kemudian, kayaknya si Puso itu mulai stres. Dia gak pernah lari-lari kayak awal dateng dulu. Terus, dia mulai sakit dan akhirnya meninggal. Aku inget banget pas lagi belajar bahasa Indonesia pas MI, aku gak sengaja liat kamus dan cari arti nama Puso. Karena, menurut orang Jawa, nama mempengaruhi hidup seseorang. Salah nama, bisa umur pendek. Ternyata Puso itu artinya kekeringa atau kemarau. Pantesan Puso meninggal gak mau makan sampe kurus dan akhirnya meninggal. Tinggalah Pusi sendiri. Karena aku sangat sayang sama Pusi, aku relain Pusi diurus sama orang yang lebih baik, namanya mbak Intan. Mbak Intan ini cantik, tinggi, dan putih. Sekarang sudah menikah. Si Pusi yang kucing jantan ini akhirnya hidup sehat bersama mbak Intan. Kemaren pas libur, aku sama Reza main ke perumahanku waktu aku melihara Pusi. Aku ketemu Pusi dan waktu aku ngelus, dia udah gak kenal aku lagi. Aku yang kebanyakan nonton drama Korea, nangis di tengah heningnya malam. Aku agak nyesel waktu itu ngerawat Pusi. Tau gitu aku bunuh aja pas Puso mati. Oh iya! Aku sering nyekar(?) ke makam Puso. Makamnya depan rumahku yang dulu.

Kucing kelima yaitu Bebi dan Push Push. Mamak dan anak. Mereka datang ke rumah dan bikin aku bahagia. Mereka dateng pas aku sedang tertimpa musibah motor hilang. Seperti yang sudah sering dikatakan penelitian, mengelus kucing membuat stres hilang. Setiap aku keinget motorku hilang karena kebodohanku sendiri, aku ngelus kucing. Semenjak saat itu aku bener-bener jadi cat addict. Sebelumnya aku hanya pecinta kucing biasa. Yang gak hidup sama kucing juga gak papa, tapi sekarang kalo liat kucing itu rasanya gak bisa kalo gak senyum. Iya. Aku terserang jatuh cinta beda spesies. Bebi adalah kucing yang gak kalah kalemnya sama Putri. Bedanya, Bebi gak tewas mengenaskan kayak yang dialami Putri. Dia hilang kabur ke rumah temennya Reza taun lalu. Kalo Push Push hilang pas gunung Kelud meletus. Push Push semacam kucing kampung yang kalo liat gunung meletus kayak liat kembang api gitu. Dia berlari kesana-kemari pas gunung Kelud meletus.  Akhirnya dia diambil sama tetangga dan sekarang gak balik-balik. Kena TBC kayaknya akibat abu gunung Kelud.

Kucing keenam adalah Yomi, Komi dan Eyo!. Yomi dan Komi ini adalah anak kembar hasil perkawinan Bebi dan suami gendutnya. Sebut saja suaminya itu, Gendut. Nah, Yomi sama Komi ini anak kembar tidak identik. Yomi warnanya hitam putih dan kepalanya bulat, Komi warnanya hitam keabu-abuan dengan muka yang tirus. Keduanya perempuan. Yomi ini lincah dan aktif sedangkan Komi ini lebih pendiem. Dan ternyata aku tau, Komi sering disiksa bapaknya, si Gendut. Bapak yang kurang ajar! Komi yang stres akhirnya gak suka makan dan meninggal. Mayatnya sendiri di geret sama Yomi sendiri dibuang ke kali depan rumah. Sebagai saudara kembar, Yomi sungguh tidak ber pri kekucingan. Aku mengulangi kesalahan yang sama, Komi dalam bahasa Korea artinya kecil. Makanya Komi kurus banget dan meninggal. Yomi yang sebatang kara akhirnya dijaga sama Eyo!. Sampe sekarang Yomi masih sama aku, sedangkan Eyo!, dia suka hang out sama temen-temennya nyari tulang ke tetangga sebelah. Kadang kalo siang-siang aku sama Yomi nonton My Cat From Hell. Dan kadang ada momen dimana si kucing ini mau disuntik mati kalo gak bisa dirubah perilakunya sama hewan lain ato sama majikannya. Aku nangis, Yomi ketiduran. Berbeda dengan kucing lain, Yomi suka makan apa saja. APA SAJA!! Dia sempet hampir makan kemoceng pas aku sodorin kemoceng. Dia suka makan wishkas sampe tahu bahkan pastel dan kebab. Setiap aku buka lemari makanan, dia pasti lari masuk ke dalam bahkan jika dia habis bangun tidur mukanya langsung melek. Dan ketika dia liat tanganku gak bawa apa-apa, dia bakal pasang muka bete dan tidur di bawah lemari makanan.

Sebenernya episodeku melihara kucing gak cuma sampe 6, cuma karena banyak yang harus diingat jadi aku agak agak lupa berapa kucing yang aku pelihara.

Aku bukan cuma cat addict, tapi aku juga pecinta hewan (kecuali nyamuk). Kalo liat dokumenter ttg hewan, apapun, aku pasti sedih. Nangis. Melebihi aku nangis nonton film tersedih apapun ttg manusia. Aku sedih sama kenyataan, bahwa manusia lupa kalo makhluk hidup itu bukan cuma manusia, hewan dan tumbuhan juga. Mengutip kata-kata dari film Old Boy "monster seseram apapun juga punya hak untuk hidup". Aku nulis ini karena kemaren habis heboh di fesbuk-ku tentang kucing yang disiksa dan dibuat mainan, sampai bagian punggung kucing tersebut berdarah dan robek. Jujur. Aku nangis (alay! EMANG AKU ALAY KENAPA!!). Sampe aku berjanji, kalo aku ketemu orangnya, mau aku iris juga punggungnya. Horror.

Bukan cuma itu, ada juga baru-baru ini pembunuhan di Blitar. Sebelum pembunuhan terjadi, si korban dan tersangka ini mabuk-mabukkan dan membakar anjing. MEMBAKAR ANJING!! Awal aku denger cerita pembunuhan itu, aku kasian sama korbannya yang seorang perempuan dan sebelum dibunuh, si perempuan ini diperkosa dulu. Siapa yang gak kasian? Apalagi aku juga perempuan. Tapi, pas tau ternyata korban juga ikut membakar anjing, aku dengan tegasnya(?) menyumpah serapahi orang itu dan aku memohon sama Allah semoga manusia yang yang menyakiti makhluk ciptaannya gak bakal bisa mencium bau neraka.

Aku inget kata nenek "Fitri? Mbunuh lebah? Aku nginjek semut ae aku diseneni kok!". Karena, yang aku pelajari di kitab (lupa namanya. iya aku emang bukan murid yang baik) pas MAN, katanya membunuh, bahkan seekor semut pun sudah dianggap pembunuh dan dosa pembunuh itu sangat besar. Kata guru ngajiku, dosa besar itu susah masuk surga. Karena aku sayang nenek, aku mau tinggal di surga bareng nenek. Jadi nenek gak boleh membunuh hewan apapun itu (kecuali nyamuk).

Lebih ekstrem lagi, karena bolak-balik disakiti pria (cie Pitrik!), aku sampe bilang kalo gak mau nikah dan hidup sama kucing aja. Terus aku sadar, itu bukan ide bagus. Aku pengen punya suami yang juga cinta hewan (kecuali nyamuk), khususnya kucing. Binatang kadang akhlaknya lebih bagus daripada manusia. Aku pernah dibenci atas kesalahan yang gak pernah aku buat, sedangkan binatang gak pernah membenci aku bahkan kalo aku gak ngasih mereka makan 2 hari. Jadi aku sering bilang juga 'I prefer to live with cats than with a human'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar