Rabu, 17 April 2013

MAN 3 Malang dan hal absurd di dalamnya :D (part 1)

"Sahabat itu ibarat Indomaret dan Alfamart. Meskipun terkadang bersaing, kita selalu dekat." The Fabulous Udin

yak! saya sebagai alumni MAN 3 Malang selalu bangga dengan almamater saya. dan saya selalu sebisa mungkin menjaga nama baik sekolah saya dulu. iya dulu... setahun yang lalu kok! belom tua-tua banget kan? :'3

jadi, disini aku bakal cerita tentang isi sekolahku yang kampret itu! dimana isinya ada murid yang baik, cerdas, kaya, kurang asem, cantik kayak aku, dan... jomblo juga banyak kok! tapi sori, waktu di MAN aku bukan termasuk di golongan hina ini. jaman MAN aku masih segar-segarnya~


di MAN 3, selain dibagi menjadi 3 jurusan yaitu IPA, IPS, dan Bahasa, ternyata juga muridnya dibagi menjadi 3 golongan. golongan stabil, yaitu isinya anak yang waras, pintar, bersahabat dengan buku. tentunya anak yang masuk golongan ini sangat sulit. seleksi alam yang dilewati cukup banyak. tapi, tentu aja ada siswa-siswa yang masuk dalam golongan stabil. dan sayangnya... aku bukan masuk golongan ini. golongan ini diisi sama Danar, Mustofa, dan semua anak aksel serta beberapa lainnya yang belom aku sebutin. males juga. gak inget juga sapa yang masuk golongan stabil.

oke. golongan kedua disebut dengan golongan borjuis. golongan ini diisi dengan anak-anak yang tiap hari ke sekolah bawa duit sejuta kali ya. bisaaaa aja memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan baik. golongan ini diisi sama Dinda, Bella, dan bala-bala mereka. mereka itu paling ditunggu kehadirannya, lumayan kan! ketemu sama mereka bisa dapet sumbangan duit ato sumbangan sembako ato minimal tumpangan mobil ke Sardo Matos buat beli belanjaan bulanan. duh, guaya e. palingan ke Matos juga buat ngadem doang. dan jelas! aku gak masuk golongan ini juga. padahal yang masuk golongan ini lumayan banyak.

dan yang terakhir adalah golongan ketiga. golongan yang disebut golongan kampret! golongan ini dalam segi otak gak nyampe bisa masuk ke golongan stabil. bukan karena bodo, karena emang gak lolos seleksi alam. sedangkan gak bisa masuk golongan borjuis karena.... banyak hal. pertama, golongan kampret ke Matos bukan buat shopping. tapi, buat ngadem. kedua, golongan kampret gak pernah bawa duit sejuta ke sekolah. ketiga, sekalinya pegang duit banyak, golongan kampret bawanya recehan. golongan ini menghabiskan waktunya buat berkhayal, main india-indiaan, gosip pas ada kegiatan asrama, dan yang paling parah... golongan kampret paling suka bawa buku buat gaya-gayaan biar dikira masuk golongan stabil dan bawa dompet kemana-mana biar dikira masuk golongan borjuis. dan... tepat! saya masuk golongan ini bersama widar... leak... dan... mungkin kebanyakan anak Damaskus kali ya!

selain 3 gologan di atas, saya juga termasuk penghuni asrama MAN 3 Malang yang hampir seluruh isinya juga masuk golongan kampret -_- haaah. 

awal aku datang ke MAN 3 Malang, aku heran. aku gak apal jalan! sumpah iki serius. aku salah jalan pas cuma mau ke koperasi. untung aja waktu itu aku bergaulnya sama Nafis. subhanallah.. aku bergaul sama anak golongan stabil saat pertama masuk. aku di ajak belajar bersama... hingga saat itu tiba. aku masuk ke asrama MAN 3. kampret. berharap sekamar sama si Nafis, aku malah di kasih sekamar sama Zila, Rahma, Anzala, Aisy, dan Aya. dan fix. setelah itu aku dijerumuskan ke golongan kampret! mereka tega.. tega..
kerjaan kami tiap malam adalah menyanyi. ya. menyanyi apa saja yang bisa mengganggu kamar sebelah yang isinya kakak kelas yang galak. yang suka ngerampas HP orang! huh~ dan dengan cerdasnya, aya kalo telpon selalu menghadap ke kamar kakak galak yang pasti keliatan. karna saat itu kamar kami adalah ruang laundry sekarang. aku tau.. dari awal aku selain salah gaul, aku juga salah tempat :'(

lalu, gak lama kami pindah di kamar baru. kamar luas dimana isinya juga banyak manusia. rame. banget. disitulah aku kenal widar, rona, mondir, dan teman-teman lain. dan fix lagi. kami sekamar tetap menjadi golongan kampret. di kamar ini, kekampretan kami semakin parah. gak cuma jailin kakak galak sebelah kamar, anak ustadz juga kami garap. si Zila, bos kampret dari segala kampret, masukkin anak ustadz ke dalem lemari. aku antara mau nyelametin tapi males juga. dia nyebelin. sukanya caper. haduh ya Allah, aku khilaf. seharusnya waktu itu aku membantunya agak aku paling nggak naik golongan!

nggak sampe disitu kekampretan kami. pernah suatu hari, kami sekamar gak ada yang ke mesjid buat sholat jamaah disana. kami memutuskan untuk sholat jamaah di kamar. karena, menurut otak kampret kami, sholat dimana pun, yang penting khusyuk apalagi jamaah. insya Allah juga sama aja bakal diterima Allah. dan kampretnya... kami lupa sama absen dari bagian dakwah asrama. hingga akhirnya gedoran maut dari ustadz gunawa tiba. kami yang sedang hot-hotnya gak pake jilbab lari berhamburan mencari tempat persembunyian. aku dengan segala kekampretanku malah lari ke arah ustadz. entar apa yang aku pikirkan saat itu. lalu aku berbalik dan kembali dalam pasukan kampret yang lain. kami berhamburan keluar dan sembunyi di kamar mandi. DENGAN TIDAK BERJILBAB DAN MENGGUNAKAN BAJU TIDAK SENONOH! dan parahnya, Anzala dengan segala kekampretannya sempet bawa makanannya di kamar mandi. iya. saat itu ada 6 orang masuk dalam satu kamar mandi. ustadz gunawan merupakan guru besar golongan stabil, jadi gak mungkin terkecoh. ustadz lalu teriak dan bertanya siapa yang ada di dalem kamar mandi. dan keenam orang dari kami dengan cerdasnya gak jawab apa-apa. lalu entah saking murkanya atau saking malesnya meladeni kami yang kampret ini, ustadz gunawan pergi. saat itu golongan kampret merasa menang. kami kembali ke kamar sambil ketawa-ketiwi. besok paginya pas shubuh, kami kena hukum suruh berdiri menghadap ke cowo sambil baca al-qur'an. kampret bukan? tapiiii, bukan golongan kampret namanya kalo tidak menggunakan kesempatan dalam kesempitan. waktu disuruh baca qur'an kami memasang muka secantik mungkin. gak usah tanya kenapa. kalian pasti tau lah~ :'3

akhirnya gak sampe satu semester semenjak keluarnya Rona dari asrama, aku pun pindah kamar ke Damaskus. disana aku pikir bakal ketemu manusia yang baik dan benar. paling gak bisa naik golongan ke stabil ato borjuis. dan... aku salah besar! disana memang ada beberapa anak yang stabil, tapi aku salah pergaulan lagi. aku malah gaul sama anak kampret! jadilah aku semakin kampret. for your information #tsaah bahwasanya anak aksel angkatan saya itu apalagi yang perempuan bukanlah golongan yang sepenuhnya stabil. mereka banyakan kampretnya. kampret banget malah. aku terkontaminasi. di Damaskus ini aku mulai kenal dengan makhluk bernama lea. dia bukan merk jeans ato setan dari Bali. dia manusia. turunan China gitu. sipit. tinggi. dan tentunya kampret! dia yang ngajarin aku bagaimana untuk... untuk... kampret! dia gak ngajarin aku apa-apa! -_- disana aku masih bergaul sama Widar, karna Widar juga kamarnya di atas kamarku. haah -_-

di Damaskus aku bertemu dengan mbak Rinda yang selalu mengaku dapat mengajarkan cara kabur dari asrama yang baik dan benar. namun, hasilnya aku sama Vista tetep ketahuan dan dihukum apalan surat an-Naba. ya Allah... mbak Rinda. ampunilah dia ya Allah -_-
di Damaskus ini juga mengajarkanku bahwa bangunlah pagi, maka engkau dapet antrian setrika lebih pagi. tapi, karena aku dari golongan kampret. jelas lah aku gak nyetrika baju. laundry dong! apa? nggak. bukan karna aku naik ke golongan borjuis makanya aku sanggup bayar duit laundry. itu semuanya ngutang. secara aku punya temen bagian laundry. namanya Dyah. aku biasanya manggil dia Didi. dia yang mengenalkanku pada dunia perkoreaan. haah -_-

di Damaskus aku juga dijadikan budak video lypsinc oleh yang mulia mbak Bachan. waktu itu asrama ada lomba lypsinc, dan dengan baik hatinya aku mau jadi relawan sama si Fira. kami lypsinc-in lagu Agnes Monica. aku disuruh akting makan rumput, dan aku melaksanakannya dengan penuh penghayatan. gimana gak menghayati? sama yang mulia mbak Bachan dipaksa. katanya menggambarkan frustasi. frustasi dari korea utara to, mbak? -_-

itu di dunia asramanya. di dunia sekolahnya? gak jauh beda. bagi golongan kampret kayak aku, sekolah tak ubahnya adalah taman bermain. kelas satu contohnya, aku dapet duduk belakang sendiri. bareng Ade. dia anak golongan kampret juga. sekelas waktu itu kampret semua. kecuali Anas #halah
kelasku waktu itu namanya PETA. tauk deh itu sapa yang kreatif banget bikin nama begitu.
oh iya. pas kelas satu semester satu temen cewek punya buku yang namanya buku dosa. itu sebenernya buku agenda yang dibeliin makku buat catetan. dengan harapan anaknya yang cantik ini bisa nyatet hal-hal penting di dalamnya agar menunjang belajarnya. namun, anaknya yang kampret ini malah menyalah gunakannya. malah dipake buat ngerasani anak cowo sekelas. jadilah itu kitab suci bagi anak cewek kelasku. hingga akhirnya hari itu tiba. buku itu tiba-tiba raib, dan ternyata dibawa oleh Zaki. Zaki yang ganteng dan berkharisma itu adalah ketua kelasku pas kelas satu semester satu. kemudian terkuaklah kebusukan anak cewek yang kalem penghunia kelasku. kami selaku wanita dari golongan kampret saat itu sangat ingin bunuh diri -_-

opo? kepengen aku cerito masalah buljik mbek aku a? ora! biar itu menjadi kenangan yang terkubur! DALAM-DALAM!

kemudian ada pula insiden kekancingan di kamar mandi. saat itu kelas satu semester dua. aku salah gaul lagi. aku gaul sama Malin. dia dari golongan yang gak kalah kampretnya sama yang lain. waktu itu kita bolos pelajaran... lupa pelajaran apa. pokoknya baca al-qur'an gitu. niat yang buruk pasti berakhir buruk. aku lari-larian sama Malin ala India hingga akhirnya dengan segala kepolosanku, aku masuk ke kamar mandi yang pintunya rusak. aku kekancingan. Malin cari bantuan dan dia gak balik. kampret. dia jahanam! kemudia aku denger suara Rahma masuk ke kamar mandi. aku teriak manggil Rahma buat bukain pintunya. dan dia bilang "tapi fit, sayang pintunya nanti rusak!" kawan macam apa dia? -_- hingga akhirnya Romi dengan segala cahaya yang melekat pada dirinya datang satu jam kemudian dan membantuku keluar dengan mudah. aku lumutan hampir mati. alhamdulillah. itu teguran dari Allah biar aku gak bolosan. minggu depannya, aku masih bolos lagi dengan cara yang lebih pintar. namanya aja golongan kampret.

kemudian, saat kelas 3. kelas dimana aku mulai betah-betahnya di asrama. aku kenal sama mbak Nina, wanita dari Amerika. aku pikir aku bakal naik golongan kalo bisa gaul sama dia. aku mulai PDKT... aku salah perkiraan. mbak Nina mungkin nenek moyang dari segala golongan kampret di MAN 3. dia kampretnya setengah mati. aku pikir di Amerika bisa normal, ternyata kampret. aku diajari cara laundry diluar tanpa ketahuan. hasilnya? sekamar pernah kepergok ustadz mukhlis yang tampan ngelaundry di luar. dan waktu ustadz tanya kita darimana, dengan polosnya aku jawab "angkat jemuran, ustadz!" sambil menggenggam laundry-an ditangan! astaga. ya Allah, ampunilah aku saat itu.

aahh... gak cukup blog ini mengupas segala kenangan yang ada di MAN 3. terlalu panjang, terlalu indah, terlalu manis... terlalu kampret! :) sahabat, bukan kita yang memilihnya, tapi takdir yang memilih kita untuk bersahabat!

3 komentar: